Milad Ke 7 SMK Muhammadiyah 4 Surakarta

Minggu, 19 April 2015 SMK Muhammadiyah 4 Surakarta mengadakan acara Gebyar Milad ke 7 dengan rangkaian kegiatan Jalan Sehat, Donor Darah, Baksos, Lomba Riang Gembira, Pengajian dan Pentas Seni Islami, Seminar Gesit dan Open House dan Seminar Parenting.

Festival Wayang Internasional SD Muhammadiyah 1 Surakarta

SD Muhammadiyah 1 Surakarta menggelar acara Festival Wayang Internasional yang di hadiri dari perwakilan 11 Negara di Taman Sriwedari Surakarta

Standar Sekolah Ramah Anak

SD Muhammadiyah 16 Surakarta penuhi Standar Sekolah Ramah Anak

Sabtu, 4 April 2015 - Pengajian Rutin Guru dan Karyawan Muhammadiyah surakarta yang di gelar di sekolah SD Muhammadiyah 3 Surakarta, dengan pengisi ceramah Bapak Drs. Najmuddin Zuhdi, M.Ag yang mengambil tema tentang Sholat Gerhana

Kunjungan Dari 11 Negara di Solo melihat proses belajar sekolah ramah anak

11 Negara kunjungi solo melihat proses belajar sekolah ramah anak, diantaranya : Swedia, Indonesia, China, Afrika Selatan, Ethiopia, Namibia, Kamboja, Malawi, Mesir, Zambia, Swedia, Tanzania, Vietnam.

Pameran Kreatifitas Sekolah

SMK Muhammadiyah 3 Surakarta, salah satu peserta pameran kreatifitas di Hartono Mall Solobaru

Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah

Kamis, 02-04-2015 - Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Surakarta dari Bapak Drs. H. Suraji kepada Bapak Drs. Ahmad Munawir, S.Pd., SH., M.Si., MH.

MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47 MAKASSAR

Kamis, 23 April 2015

Read Aloud, Metode Membacakan Buku untuk Anak-anak


Jakarta, Kemendikbud --- World Book Day atau Hari Buku Sedunia adalah acara tahunan yang dirayakan setiap tanggal 23 April. Untuk ikut merayakan Hari Buku Sedunia, Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menyelenggarakan kegiatan “Pencanangan Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud) untuk Anak” pada bulan Mei 2015. 
Read Aloud merupakan salah satu metode membacakan buku untuk anak.
Metode ini diperkenalkan oleh Jim Trelese dalam bukunya The Read Aloud Handbook. Read Aloud adalah metode mengajarkan membaca yang paling  efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan.  Juga menciptakan pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak, membangun koleksi kata/kosakata (vocabulary), dan memberikan cara membaca yang baik (reading role model).
Saat usia emas (golden age), yaitu 0-5 tahun, anak akan dapat menyerap dengan sangat cepat. Dengan potensi yang sedemikian hebat itu, maka mengenalkan anak untuk membaca di usia dini tentunya tidak menjadi masalah, asalkan caranya tidak membuat anak stress bahkan terbebani harus bisa membaca.  Yang dilakukan bukan membuat anak bisa membaca, tapi membuat anak suka membaca. 
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak semester ke-3 kehamilan. Karena itu  semakin dini buku diperkenalkan, maka hasilnya akan semakin optimal dalam upaya menumbuhkan kecintaan anak pada buku dengan bonusnya anak akan bisa membaca dengan sendirinya.
Read Aloud juga dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bisa di rumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, menunggu pesawat atau kereta api, atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutinitas  adalah kunci utama keberhasilannya.
Manfaat read aloud antara lain dapat membangun keterampilan literasi  melalui pengenalan bunyi, intonasi, kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Read Aloud juga membantu anak menambah kosa kata, terutama kosa kata bahasa buku yang dipergunakan untuk membaca. Kedekatan orang tua dengan anak juga bisa dicapai karena anak terbiasa dengan suara orang tua dan terdapat ‘skin to skin contact’ ketika membacakan cerita, serta terdapat juga kedekatan dengan buku. Orang tua yang membacakan cerita kepada anak juga langsung menjadi contoh membaca bagi anaknya (reading role model). (Desliana Maulipaksi)

Selamat Hari Buku Sedunia!



Jakarta, Kemendikbud --- Selamat Hari Buku Sedunia! World Book Day atau Hari Buku Sedunia adalah acara tahunan yang dirayakan setiap tanggal 23 April. Acara ini mulai dianjurkan oleh UNESCO pada 23 April 1995. Pada Hari Buku Sedunia, berbagai negara menyelenggarakan aktivitas untuk membuka mata masyarakat mengenai dunia membaca, dunia penerbitan buku, hingga hak cipta. Hari Buku Sedunia juga menjadi momen untuk mengajak masyarakat lebih mengenali karya–karya atau bahan bacaan yang menarik.
Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Sementara dari data Survey Badan Pusat Statisitik (BPS) pada tahun 2012, didapatkan bahwa sumber informasi penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas diperoleh dari televisi (91,68 %), dan hanya sekitar 17,66 % yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah. Data Bank Dunia pun menunjukkan minat baca anak Indonesia termasuk rendah, yaitu sekitar 51,7 %,  lebih rendah dari Philipina 52,6 %, Thailand 65,1 %, Singapura 74 % dan Jepang 82,3 %.
Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia, Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menyelenggarakan aktivitas untuk meningkatkan minat baca generasi bangsa, khususnya anak-anak. Perpustakaan Kemendikbud akan menggelar kegiatan “Pencanangan Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud) untuk Anak”. Kegiatan ini akan berlangsung pada bulan Mei 2015.
Kegiatan “Pencanangan Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud) untuk Anak” bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, serta meningkatkan minat baca pada anak. Membacakan buku buat anak memiliki dampak luar biasa pada perkembangan anak. Dalam kegiatan ini, direncanakan Mendikbud Anies Baswedan akan membacakan buku cerita di depan anak-anak usia dini.
Selain itu, para guru dan orang tua juga dapat mengikuti workshop Read Aloud untuk bekal membacakan buku cerita bagi anak-anak. Read Aloud adalah metode mengajarkan membaca yang paling  efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Orang tua dan guru yang membacakan cerita kepada anak-anak dapat menjadi contoh bagi anaknya (reading role model). (Desliana Maulipaksi)

sumber : www.kemdiknas.go.id

Rabu, 22 April 2015

Mendikbud Apresiasi Kejujuran Siswa di Yogyakarta



Jakarta, Kemendikbud --- Usai menindak tegas pelaku pembocoran 30 buklet naskah ujian nasional (UN) SMA dari total 11.730 buklet UN 2015 melalui akun Google Drive, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan kembali mengambil langkah cepat, untuk menanggulangi efek kebocoran naskah soal tersebut. Langkah yang diambil adalah mengecek efek kebocoran dengan menganalisis pola jawaban siswa di daerah yang diduga terkena dampak kebocoran tersebut, seperti di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mendikbud mengatakan, seluruh Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) Provinsi DIY telah selesai dipindai, dan dikirimkan ke Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud. Hasil analisis menunjukkan dua fakta penting, yaitu: (1) Pola jawaban siswa di Jogja menunjukkan tidak ada anomali pada nilai rerata sekolah; dan (2)  Analisis juga menunjukkan bahwa indeks integritas pelaksanaan UN di daerah tersebut juga tetap tinggi (baik).
Indeks integritas adalah upaya Kemdikbud untuk mengukur tingkat kejujuran sekolah dengan melihat hasil UN. Penilaian ini juga diperkuat dengan melihat hasil  analisis tahun 2014, untuk melihat apakah ada anomali.
Beragam fakta hasil analisis tersebut membuat Mendikbud yakin UN di Yogyakarta berjalan dengan baik dan jujur. Ia menambahkan bahwa hasil ini juga membuatnya bangga dan terkesan dengan para siswa di Yogyakarta yang secara kolektif memilih tidak menggunakan dokumen terlarang dalam persiapan Ujian Nasional.
Menurut Mendikbud, nilai integritas pelaksanaan UN yang tinggi bukan sebuah kebetulan, tapi hasil proses pembelajaran lintas tahun. “Apresiasi harus kita berikan untuk siswa yang memilih jujur dan tidak melakukan kecurangan. Anak-anak ini seperti orang puasa di siang hari yang panas lalu diiming-imingi minuman dingin dan secara sadar menolaknya,” ungkap Mendikbud di Jakarta, (22/04/2015).
Mendikbud pun memberikan apresiasi pada orang tua siswa,  dan guru yang memilih menjalani UN dengan jujur. “Rasa salut saya sampaikan untuk para orang tua, guru, pendidik, yang telah berhasil membentuk anak-anak berintegritas di Yogya. Anak-anak berintegritas seperti inilah yang bangsa ini butuhkan,” katanya.

Sumber : www.kemdiknas.go.id

Senin, 20 April 2015

LPMP Didorong Buat Profil Mutu Pendidikan Kabupaten/Kota


Jakarta, Kemendikbud --- Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) diharapkan dapat menampilkan profil mutu sekolah di daerahnya masing-masing. Profil tersebut menjelaskan bagaimana kualitas pendidikan di suatu daerah terkait guru, siswa, dan proses pembelajaran.

“Jika bisa mengeluarkan profil mutu sekolah, pasti LPMP akan disegani oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota,” kata Direktur Pembinaan SMP  Ditjen Pendidikan Dasar, Didik Suhardi saat diskusi dalam acara Penyelerasan Fungsi LPMP di Gedung D Kemendikbud,Jakarta, Kamis, (16/04/2015).

Didik mengatakan, pemetaan mutu pendidikan yang dilakukan LPMP menjelaskan posisi kualitas pendidikan di suatu daerah. Hal ini akan menjadi peringatan bagi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota agar meningkatkan pembangunan pendidikan. “Lalu dari sini kita perbaiki pelan-pelan,” katanya.

Sementara Dirjen Pendidikan Dasar yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Hamid Muhammad menuturkan, LPMP memiliki tugas mengoordinasikan semua kebijakan terkait mutu pendidikan di lapangan. Ia pun mendorong agar LPMP menjadi tangan kanan Kemendikbud di tingkat provinsi.

Hamid berharap LPMP melakukan pemetaan mutu pendidikan di kabupaten/kota. “Saya sudah mengusulkan ke Pak Menteri, akan ada rapor mutu pendidikan di tiap kabupaten/kota,” ujarnya saat menutup acara. (Billy Antoro)

sumber : www.kemdiknas.go.id

Minggu, 19 April 2015

Mendikbud Tak Setuju Moratorium UN



Bandung, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan lebih memilih untuk memperbaiki pelaksanaan ujian nasional (UN) ketimbang moratorium. Terlebih jika moratorium itu disebabkan oleh ada kebocoran soal setiap tahunnya. Ia menganggap persoalan tersebut bisa diatasi dengan melaporkannya ke kepolisian dan Kemendikbud.
"Solusinya yang harus diperbaiki. Apakah kita sudah sempurna dalam menjalankan ujian itu? Apakah kalau belum sempurna lalu kita hentikan? Nah, sebaiknya jika menemukan kebocoran soal segera laporkan jangan cuma diobrolkan saja. Biar bisa diproses secara hukum," ujar Menteri Anies usai berorasi kebudayaan di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (18/4/2015).
Mendikbud mengatakan, dalam mengevaluasi sesuatu jangan langsung mengambil sikap dengan spontan. Lebih baik, kata dia, mengoreksi kekurangan UN setiap tahunnya dan memberikan sanksi kepada guru yang membocorkan soal-soal UN tersebut.
"Lebih baik kita koreksi. Kita terus sempurnakan. Jika masih banyak ratusan ribu guru yang menjaga amanah, masak dikalahkan dengan satu dua orang yang curang. Justru kita akan beri sanksi yang menjadi pengkhianatnya. Harus diproses secara hukum dan dibui agar memberikan efek jera," katanya.
Mendikbud mengakui kebocoran soal UN di beberapa daerah bisa dilihat dari hasilnya. Kebocoran tersebut dapat dengan mudah diketahui jika ada kelonjakan nilai di suatu daerah yang dulunya mendapat nilai rendah. Menteri Anies berjanji akan menyelidikinya jika menemukan hal serupa.
"Kita bisa melihat apakah soal-soal itu dipakai di beberapa daerah atau tidak dari jawabannya. Karena selama ini kita punya pola jawaban tiap-tiap sekolah dan tiap-tiap daerah," katanya.

Sumber : www.kemdiknas.go.id

Jangan Pandang Siswa Sekadar Anak Kecil, Merekalah Wajah Masa Depan Indonesia


Bandung, Kemendikbud --- Para siswa yang duduk di bangku sekolah bukan hanya sekadar pelajar melainkan wajah masa depan Indonesia. Jangan pandang para siswa hanya sebagai seorang anak kecil semata karena sebenarnya merekalah yang mempunyai masa depan untuk Indonesia. Maka dari itu, ketika melakukan sesuatu hal untuk siswa dampaknya akan terasa pada 10 sampai 20 tahun mendatang dan bukan sekarang.
Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, pada saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Pameran Tunggal Hanafi dengan judul Biografi Visual "Oksigen Jawa" di Bandung, Jumat, (17/4/2015).
Mendikbud mengatakan, Indonesia akan memiliki bonus demografi dalam 10 sampai 20 tahun mendatang maka dari itu perlu diberikan ruang untuk berkembang bagi masyarakat Indonesia khususnya para siswa. Namun masalahnya, kata dia, satuan pendidikan di Indonesia belum tentu dapat memberikan ruang untuk berkembang bagi para siswanya. "Kalau kita bicara manusia di Indonesia itu diberikan ruang untuk berkembang, manusia Indonesia itu dahsyat begitu dikasih kesempatan untuk berkembang," ujarnya.
Mendikbud menekankan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang mendorong agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan seperti dicita-citakan bapak pendidikan modern Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Sekolah yang menyenangkan, kata dia, para siswa akan datang ke sekolah dengan senang hati dan pulang dari sekolah dengan berat hati. Dia mengatakan, kenyataan saat ini di Indonesia adalah sebaliknya, para siswa datang ke sekolah dengan berat hati dan pulang dari sekolah dengan senang hati. "Karena itu kita harus mengubah konsep ini menjadi sekolah yang menyenangkan," tuturnya.
Mendikbud menjelaskan, sering kali ketika akan memperbaiki proses pendidikan di Indonesia maka akan bertanya kepada para ahli pendidikan, kepala sekolah, guru, dan pihak-pihak yang berpengalaman lainnya di bidang pendidikan. Tetapi untuk memperbaiki proses pendidikan tersebut, kata dia, tidak pernah bertanya langsung kepada para siswa agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. "Mereka akan hidup di zamannya," ucapnya. (Agi Bahari)

Sumber : www.kemdiknas.go.id

Mendikbud: KAA 1955, Peristiwa Kebudayaan yang Berdampak Besar


Bandung, Mendikbud --- Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 1955 merupakan peristiwa kebudayaan yang mempunyai dampak besar dan lebih dari sekadar berkumpulnya para kepala negara dari Asia dan Afrika. Selain itu, pada konferensi tersebut ada pertukaran pemikiran dan budaya antar negara-negara peserta KAA.
Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, saat menyampaikan orasi budaya dalam acara Pendukungan Kegiatan Konferensi Asia Afrika Ke-60 Menuju World Culture Forum (WCF) II Tahun 2016, di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu (18/4/2015). 
Mendikbud mengungkapkan, berbagai media di Indonesia pada bulan Februari sampai April 1955 memberitakan parade kritik terhadap penyelenggaraan KAA dan Soekarno menjadi sasaran kritik tersebut. Pada saat itu, kata dia, di negeri yang sangat miskin merata dan masih banyak orang yang buta huruf, para pemimpin Indonesia memutuskan untuk mengumpulkan kepala negara di Asia dan Afrika serta menghabiskan biaya yang sangat besar. Namun setelah 60 tahun kemudian, kata dia, tidak ada yang mempermasalahkan kritik-kritik itu lagi. "Di sini bedanya antara orang yang melayani opini hari ini dan orang yang membuat sejarah masa depan," ujarnya.
Mendikbud mengimbau, para pemimpin yang memikirkan bangsa Indonesia ke depan, jangan hanya sekadar memikirkan opini masyarakat saat ini saja meskipun itu penting. Jika sedang dalam posisi membicarakan rute perjalanan bangsa Indonesia, kata dia, jangan pernah terkecoh dengan keramaian yang ada di tengah-tengah masyarakat. "Bila yakin yang dikerjakan benar, pikirkanlah apa yang dikatakan sejarahwan di masa depan, karena itu yang akan menentukan apakah langkah hari ini memiliki dampak yang positif atau tidak untuk sebuah bangsa," tuturnya.
Mendikbud mengatakan, para peserta KAA 1955 yang datang ke Indonesia bukan karena rasa kasihan terhadap kondisi di Indonesia pada saat itu. Tetapi, kata dia, mereka melihat sebuah peradaban Indonesia yang memesona melalui gagasan negeri yang dibangun dari landasan tradisi dengan konsep negara modern. Dia mengatakan, semua peserta KAA pada saat itu ingin seperti Indonesia dan menghasilkan orang-orang terdidik dan tercerahkan seperti di Indonesia. "Ini kehebatan kita di periode itu," katanya. (Agi Bahari)

Sumber : www.kemdiknas.go.id

.